TANDA NERAKA
 
Pameran Tunggal oleh I Made Sujendra
1 Desember 2018 – 20 Januari 2019
 
Pembukaan
Sabtu, 1 Desember 2018
09.00-17.00

“Dalam setiap perbuatan akan memperoleh hasilnya”. Kutipan dari hukum Karma Phala yang mendasari karya-karya ini. Pilihan yang kita ambil menentukan tuajuan yang kita capai. Perbuatan baik akan mendapatkan kebaikan, begitu juga sebaliknya. Semuanya mendapat ganjaran tanpa kecuali.

Setiap orang memiliki pilihannya sendiri yang bermuara pada berbagai hal seperti kesenangan, kesedihan, kesengsaraan hingga penghukuman. Di Bali konsep Tri Kaya Parisudha yaitu berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik menjadi pilihan ideal yang mengantarkan menuju muara tanpa penghukuman. Beberapa orang tak menyadarinya, sebagian lagi telah melihatnya dari kejauhan dan dengan pertimbangannya tetap menjalani pilihannya dimanapun bermuara.

Pameran berjudul “Hell Sign” memberi petunjuk dan pengingat kembali akan muara dari jalan yang tak mestinya dilalui. Memberi pandangan mengenai norma dalam menjalani kehidupan khususnya di Bali. Terkadang sangat mendalam tak sebatas kebaikan maupun keburukan, bahkan hingga hal-hal yang bersifat pribadi. Dan itulah kewajaran yang secara turun temurun dipercaya dan dijadikan penanda jalan terbaik sampai saat ini.

Dalam kehidupan kita tidak hanya dituntut bertangung jawab atas diri kita sendiri. Tri Hita Karana merupakan ajaran yang mewajibkan kita menjaga keharmonisan dengan aspek lainnya yaitu menjaga keharmonisan degan sesaman manusia, menjaga keharmonisan dengan lingkungan dan alam begitu juga menjaga keharmonisan dengan pencipta Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kewajiban sebagai insan jauh lebih kompleks. Jalan yang menuntun menuju penghukuman bisa berasal dari sikap abai terhadap ajaran Tri Hita Karana tersebut.  Sikap individualisme yang ekstrim misalnya, yang seharusnya hanya berada dalam lingkup norma dan etika bisa menjadi kekeliruan dan kesalahan karena membuat kita abai akan keharmonisan yang harusnya terjalin antara sesama manusia.

Kilasan mengenai penghukuman pada roh atau atma yang telah meninggalkan raga setelah kematian sebagai ganjaran dari pilihan yang dijalani selama kehidupan, diambil dari geguritan Atma Prasangsa, divisualisasikan melalui karya seni rupa degan teknik tradisional Batuan memberi petunjuk bahwa jalan tersebut terlarang seditaknya bagi pelukis sendiri.